Kemenko PMK Ajak Masyarakat Indonesia Lawan Stunting

Breaking News

lensapendidikan.com – jakarta

Dalam toko Hari Gizi Nasional ke-62, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Agus Suprapto, mengajak masyarakat Indonesia ikut membahu perang melawan stunting.

Agus pada Rabu (27/1/2022) mengatakan, untuk mewujudkan sumber daya manusia (SDM) yang unggul dalam menyongsong industri 5.0 dan menuju Indonesia maju, maka stunting harus dientaskan dari bumi Indonesia.

Kemenko PMK mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk bekerja sama dalam memerangi stunting, karena masa depan suatu bangsa dan negara terletak pada kemampuan dalam mempersiapkan SDM yang maju dan berkualitas,” kata Agus.

Untuk penurunan stunting, ada dua intervensi yang dilakukan yaitu intervensi spesifik, yang berkaitan dengan penyebab langsung stunting umumnya di sektor kesehatan. Kedua sensitif, berhubungan dengan penyebab tidak langsung yang melaksanakan lintas sektor.

Seperti lingkungan yang bersih, ketersediaan air bersih, kemudian kemiskinan, dan pendidikan. Penguatan intervensi sensitif di sisi hulu harus sejalan dengan mendukung intervensi spesifik di sisi hilir.

Kedua intervensi ini harus dapat terimplementasi secara nyata dilapangan, disertai dengan peningkatan strategi peningkatan kapasitas SDM dan edukasi baik ditingkat rumah tangga, posyandu, puskesmas dan lokasi lain untuk mendukung upaya perbaikan gizi untuk mencegah stunting,” kata Agus.

Pada momentum Hari Gizi Nasional ini,   Agus mengatakan bisa dimanfaatkan untuk berbagi dan bergerak bersama memberi perhatian pada remaja, ibu hamil, pasangan usia pinggiran kota dan calon pengantin.

Berdasarkan data, pasangan usia suburban bukan peserta keluarga berencana (KB) masih ada sebesar 16.347.800, jumlah ibu hamil sebesar 4.887.405 ibu, dan balita stunting sebesar 5,33 juta balita.

Percepatan penurunan stunting ini harus dilaksanakan secara holistik, integratif, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan koordinasi di antara kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi/kabupaten/kota, pemerintah desa, dan pemangku kepentingan lain termasuk TNI-POLRI.

Perlu juga pendampingan khusus untuk daerah dengan jumlah risiko tinggi   di tujuh provinsi prioritas prevalensi stunting tinggi yakni Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat, Aceh, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Utara, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.

Serta lima provinsi jumlah absolut besar antara lain Jawab Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, dan Sumatera Utara. Tanpa dukungan provinsi lainnya,” kata Agus.

Status Gizi Indonesia

Selain stunting, Indonesia juga masih memiliki beban ganda masalah gizi, yaitu masih banyak penduduk yang mengalami kekurangan gizi mikro, makro, dan gizi lebih.

Berdasarkan data dari Studi Status Gizi Indonesia (SSGI, 2021) prevalensi balita stunting masih sebesar 24,4 persen, underweight sebesar 17 persen, dan wasting sebesar 7,1 persen.

Agus, tantangan untuk meningkatkan status gizi semakin besar mengingat pandemi COVID-19 mungkin menyebabkan terganggunya kondisi kesehatan, sosial-ekonomi masyarakat serta mempengaruhi pola makan atau asupan makan.

Indonesia, masih harus bekerja keras dan perlu langkah luar biasa untuk menurunkan stunting hingga 14 persen di 2024, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.

Dalam upaya mendorong target tersebut dukungan yang diperlukan dari semua pemangku kepentingan (lintas Kementerian/Lembaga, Mitra pembangunan, Profesi, Perguruan Tinggi, Tokoh agama, tokoh masyarakat

Share and Enjoy !

Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.