324 views

KLHK Kolaborasi Rilis Film Dokumenter Penelusuran Letusan Gunung Tambora

Breaking News

lensapendidikan.com – Jakarta

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersinergi dengan berbagai pihak, seperti Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pemerintah daerah dan lainnya merilis film dokumenter “Majestic Tambora”, yakni penelusuran letusan Gunung Tambora yang terletak di ujung utara Pulau Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat dan berada di dalam kawasan Taman Nasional Tambora.

Kepala Biro Humas KLHK Nunu Anugrah menjelaskan film ini mengisahkan perjalanan seorang pendaki gunung yang juga jurnalis dan penulis, menelusuri kembali jejak letusan Gunung Tambora di masa lampau, menggali sisa salah satu kerajaan dan keluarganya, dengan menemui para sejarawan hingga budayawan.

“Letusan Gunung Tambora tidak hanya menimbulkan bencana alam dan kemanusiaan saat letusan dan beberapa tahun paskanya, tetapi juga melahirkan hal-hal yang luar biasa dalam sejarah pengetahuan, seni, budaya dan sastra,” ujar Kelapa Biro Humas KLHK dalam keterangan resmi yang diterima InfoPublik pada Selasa (1/2/2022).

Lebih lanjut Nunu menjelaskan, film Majestic Tambora dikerjakan secara  kolaboratif dengan Balai Taman Nasional Tambora sejak Agustus 2020. 

Dalam hal ini ada enam tujuan pembuatan film Majectic Tambora, yakni memberi tontonan yang menghibur sekaligus edukasi, mengangkat kembali kemahsyuran gunung api Indonesia, mendorong wisata minat khusus mendaki, hiking dan trekking, promosi wisata alam Taman Nasional Tambora, mengangkat informasi bagaimana letusan gunung api dapat mempengaruhi iklim global dan peradaban, dan sosialisasi dan mendorong penetapan tanggal 10 April, peristiwa letusan Tambora, sebagai Hari Gunung Api Internasional.

“(Hari Gunung Api Internasional) diusulkan pertama kali oleh dua pemerhati gunung berapi dunia: Tanguy De Saint-Cyr dan Jeannie Curtis, pada 2016 kepada UNESCO (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa ),” katanya.

Menurut Nunu, Gunung Tambora tidak hanya menarik perhatian para pendaki, namun juga para ahli vulkanologi karena fakta bahwa letusannya telah mencatat sejarah penting dalam peradaban manusia pada 200 tahun lalu.

Letusannya Tambora yang mencapai skala tujuh Volcanic Explosivity Index (VEI) pada April 1815, lanjutnya, telah mengoyak langit dan bumi, meninggalkan lubang sedalam 1.100 meter-terdalam di dunia, dengan diameter tujuh kilometer (km), dan memangkas tingginya dari semula yang diduga pada 4.300 meter diatas permulaan laut (mdpl), menjadi hanya 2.851 mdpl.

“Letusan dahsyat Tambora telah menggulung tiga kerajaan; Pekat, Sanggar dan Tambora. Peradaban di seputar Tambora pun musnah. Jumlah korban tewas diperkirakan mencapai 92.000 jiwa. Ini belum termasuk kematian yang melanda Eropa dan Amerika, yang turut merasakan dentuman Tambora,” jelasnya.

Nunu mengatakan, secara lengkap, film dokumenter “Majestic Tambora” dapat ditonton pada saluran YouTube Balai Taman Nasional Tambora dan Ayo Ke Taman Nasional

Share and Enjoy !

Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *