Refleksi Puasa Ramadan Dalam Amaliyah

Breaking News

lensapendidikan.com – kabupaten bekasi

“Barangsiapa melakukan puasa Ramadan karena keimanan dan mengharapkan pahala di sisi Allah, niscaya dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari No. 38 dan Muslim No. 760)

 Hadis ini menyerukan untuk melandasi ibadah puasa Ramadan dengan iman dan ihtisab. Iman berarti meyakini dan membenarkan kewajiban ibadah puasa yang diperintahkan serta meyakini pula pahala yang akan diberikan atas pelaksanaan puasa tersebut. Sedang ihtisab adalah niat dan kesungguhan untuk meraih pahala puasa yang telah dijanjikan Allah SWT.

Jika seorang muslim berhasil melaksanakan ibadah puasa dengan landasan iman dan ihtisab maka ia akan menjadi orang yang berhak mendapatkan ampunan Allah SWT atas dosa-dosa yang telah ia lakukan. Berikut makna iman yang melandasi ibadah puasa di Bulan Ramadan:

 

Meyakini Kewajiban Puasa Ramadan

seorang muslim tidak cukup hanya melaksanakan ibadah puasa yang diperintahkan, tetapi ia juga harus meyakini dan mengakui kewajiban puasa yang dilaksanakan. Karena mengingkari kewajiban yang telah jelas adalah suatu kekufuran, sedang menggagalkan kewajiban karena malas adalah suatu kefasikan, selama ia masih mengakuinya sebagai suatu kewajiban.

Meyakini pahala puasa Ramadan

disamping meyakini kewajiban puasa, seorang muslim hendaknya meyakini pahala puasa yang dilaksanakannya. Karena keimanan atas aspek inilah yang akan mendasari ekstinsensi ihtisab (niat meraih pahala ibadah) dalam setiap ibadah yang dikerjakan.

Mengharap ridha Allah SWT, puasa yang bertujuan untuk meraih ridha dan cinta Allah SWT adalah Mutlak diadakan (baca: tujuan puasa). Karena niat meraih cinta dan ridha Allah SWT merupakan prinsip terpenting yang harus melandasi segala ibadah yang dikerjakan.

 

Mengharap Pahala

Mengharapkan pahala merupakan salah satu prinsip dari ketiga prinsip yang harus melandasi ibadah. Sebagian ulama salaf berkata, “Barangsiapa beribadah kepada Allah semata karena mengharap pahala-Nya maka ia adalah mur’ji. Barangsiapa yang beribadah kepada Allah SWT karena taku siksanya maka ia adalah haruri.

Barangsiapa beribadah kepada Allah SWT semata-mata karena cinta kepada Allah SWT maka ia adalah zindiq. Barangsiapa beribadah kepada Allah SWT karena mengharap pahala-Nya, takut siksa-Nya, dan ingin meraih cinta-Nya maka ia adalah mukmin sejati.” (Baca: Al-takhwif min An-Nar/17)

 

Menjauhkan Diri Dari Riya Dan Sum’ah

Salah satu dari rukun ibadah agar diterima Allah SWT adalah keikhlasan yang berarti bersih dari niat syirik, riya, dan sumah. Allah SWT berfirman:

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”( QS. Al-Kahfi: 10)

Bermalas-malasan, merasa berat dan jenuh dalam melaksanakan ibadah bukanlah sifat seorang hamba yang takut kepada siksa dan murka Allah SWT, mengharapkan ridha-Nya dan pahala dari-Nya.

 

Langkah Untuk Membangun Iman Dan Ihtisab Agar Dosa-Dosa Kecil Diampuni:

Pertama

Memahami bahwa amal ibadah akan di terima Allah SWT jika memenuhi dua rukun amal.

Pertama: Ikhlas, yaitu beribadah hanya karena mengharap pahala dan ridha dari Allah SWT, bukan mengharap puji-pujian dari manusia atau kenikmatan dunia.

Kedua Mutaba’ah, yaitu beribadah sesuai dengan tuntunan Nabi SAW, bersih dari unsur-unsur bid’ah dan kejahilan dalam beramal.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya.” (QS. Al-Kahfi: 7)

Sebagian ahli tafsir mengatakan: “siapakah di antara mereka yang terbaik amal perbuatannya; ditafsirkan dengan siapakah di antara mereka yang amal perbuatannya paling ikhlas untuk Allah SWT dan paling sesuai tuntunan Nabi SAW.

 

Kedua

Memahami bahwa amal ibadah akan diterima Allah SWT jika memenuhi 3 landasan amal (prinsip). Pertama: Raja’, yaitu Beramal karena mengharap pahala dan surga Allah SWT;

Kedua: Khaud, yaitu beramal karena takut akan siksa dan neraka Allah SWT;

Ketiga: Mahabbah, yaitu beramal karena mengharap cinta dan ridha Allah SWT.

Ketiga

Senantiasa Berkumpul dengan para ahli Ibadah. Berkumpul dengan orang yang rajin beribadah akan menumbuhkan semangat beribadah secara tulus pada diri seorang muslim. Karenanya, Allah SWT memerintahkan Nabi SAW, agar senantiasa bersama orang-orang shaleh dan rajin beribadah.

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS. Al-kahfi: 28). Wallahu ‘Alam Bishowaab (*)

Share and Enjoy !

Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published.