76 views

Hanya 39 Persen Kaum Muda Yang Merasa Pendidikan Membantu dalam Mendapat Kerja

Breaking News Pendidikan Dasar

lensapendidikan.com – JAKARTA

Isu pendidikan menjadi hal terpenting dan perhatian utama bagi kaum muda. Penelitian menunjukkan bahwa mereka mengalami banyak masalah yang berdampak pada kualitas pendidikan yang dijalani. Oleh karena itu, diharapkan pemerintah semakin meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi muda di Indonesia. Penelitian tersebut dilaksanakan oleh British Council melalui Next Generation Indonesia yang berfokus pada kaum muda. Next Generation Indonesia melakukan penelitian sejak Oktober 2021. Penelitian yang berlangsung selama satu tahun tersebut bertujuan untuk melihat kehidupan kaum muda secara lebih dekat menyangkut aspirasi, pendidikan, keterampilan, pekerjaan, politik, demografi, keterlibatan dalam masyarakat secara lokal dan global, dan juga masa depan mereka.

Pendidikan kurang relevan dengan dunia kerja Senior Programmers Manager British Council Indonesia, Ari Sutanti menyampaikan penelitian tersebut melibatkan sebanyak 3.093 responden yang tersebar di 34 Provinsi, dengan 50 persen laki-laki, 49 persen perempuan, dan 1 persen mendefinisikan dirinya sendiri. Hasil penelitian diluncurkan oleh British Council, organisasi internasional dari Inggris Raya untuk kebudayaan dan pendidikan untuk memaparkan laporan studi tentang anak muda di Indonesia, dengan tema “Youth Co:Lab National Dialogue 2022″ di Hotel Ashley, Jakarta, Rabu (26/10/2022).

Penelitian menunjukkan bahwa kaum muda sangat menghargai pendidikan formal. Mereka menganggap pendidikan menjadi komponen penting untuk memperkuat karakter, penanaman moral yang kuat, dan mengembangkan identitas sebagai warga negara Indonesia. Ari memaparkan, dari penelitian yang dilakukan hanya 39 persen saja responden yang menilai bahwa pendidikan dapat membantu dalam mencari pekerjaan, artinya kurang dari setengah responden mengatakan pendidikan mereka relevan dengan dunia pekerjaan yang didapatkan setelah menyelesaikan pendidikan.

“Hanya 39 persen ternyata dari responden kita yang melihat bahwa pendidikan itu membantu mereka mendapatkan pekerjaan. Jadi, pendidikan itu ada disconnect atau tidak berkaitan langsung antara status atau pengetahuan yang didapatkan dengan konkrit benefit dalam mendapat kesempatan kerja,” papar Ari. Oleh karena itu, mereka menginginkan adanya perubahan yang signifikan terhadap sistem pendidikan seperti literasi keuangan, pengetahuan tentang bisnis, pengetahuan tentang sosial, creative subject, pengetahuan untuk bisa transisi dari dunia sekolah atau kampus ke dunia kerja, dan keterampilan berbahasa Inggris. Hal-hal tersebut perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan, lanjut Ari.

Sementara itu, Manajer Pilar Pembangunan Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Setyo Budiantoro mengatakan bahwa kekhawatiran kaum muda tersebut sangat relevan karena masa depan itu penuh ketidakpastian terutama karena adanya perubahan besar, disrupsi tenaga kerja, dan teknologi digital. Oleh karena itu, kesempatan kerja itu akan lebih terbatas dengan yang sebelumnya.

“Oleh karena itu anak-anak muda sangat berharap agar pendidikan itu matching pada future of work,” ungkap Setyo. Setyo juga menambahkan bahwa skill yang dibutuhkan kaum muda untuk masa depan yakni tentang upaya memecahkan masalah yang kompleks, kemampuan berkomunikasi, dan kreativitas. Dengan demikian, mereka diajari untuk melihat peluang dari berbagai macam kesempatan dan tidak fokus pada satu hal saja. Hal tersebut yang dibutuhkan dalam pendidikan mereka. Sementara itu, Chief Community Development & Partnership Krealogi, Hanna Keraf menanggapi bahwa dari penelitian tersebut diperoleh adanya kesenjangan yang cukup besar antara universitas dengan tenaga kerja. Namun, pihaknya juga mengkritisi kemampuan mahasiswa dan guru dalam mengakses teknologi mampu meningkatkan kapasitas mereka.

“Apakah teman-teman mahasiswa maupun guru sudah memiliki kemampuan untuk mengakses teknologi yang meningkatkan kapasitas mereka? Pendidikan itu tidak harus selalu formal,” ungkap Hanna. Oleh karena itu, Hanna berpendapat bahwa peningkatan jiwa kewiraswastaan atau entrepreneurship juga penting dibangun oleh kaum muda. Konsep kewiraswastaan itu berbeda-beda di setiap daerah, maka kaum muda perlu menyesuaikannya dengan kondisi setiap daerah tersebut.

Mereka harus mampu memahami konteks lokal tempat mereka tinggal, sehingga mengetahui masalah dan hal yang dibutuhkan oleh daerah tersebut. Sementara itu, Ari melanjutkan bahwa kaum muda juga melihat adanya masalah yang berdampak pada kualitas pendidikan mereka.

Beberapa masalah yang mereka sebutkan yakni adanya kekerasan secara fisik dan verbal dari guru di sekolah, ditemukan guru yang kurang mampu memotivasi siswanya, kelas terlalu besar sehingga perhatian untuk siswa kurang maksimal, dan standar pengajaran yang berbeda di berbagai sekolah. Oleh karena itu, kaum muda menyerukan perubahan yang signifikan pada sistem pendidikan. Mereka memberikan beberapa rekomendasi untuk perbaikan pendidikan seperti investasi yang merata di bidang pendidikan di seluruh Indonesia (khususnya di daerah pedesaan dan wilayah timur), dan peningkatan pelatihan dan kualitas guru. Selain itu, mereka juga melihat perlunya kesesuaian keterampilan yang diajarkan di sekolah dengan yang dibutuhkan oleh pemberi kerja, khususnya keterampilan praktis seperti keterampilan teknologi dan informasi, literasi keuangan dan bisnis, dan bahasa Inggris.

Diharapkan juga adanya hubungan yang lebih jelas antara lembaga pendidikan dan pengusaha untuk membantu kaum muda dalam menjalani masa transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja. Kaum muda juga melihat perlunya perbaikan dan perluasan program dukungan keuangan dalam bidang pendidikan, diberikan kesempatan beasiswa dari jenjang ekonomi rendah, mendukung bakat kreatif dan inovasi di kelas, dan adopsi yang lebih besar dari teknologi dalam metode pengajaran. Penelitian tersebut melibatkan responden berusia 16-19 tahun sebanyak 20 persen, berusia 20-24 tahun sebanyak 27 persen, berusia 25-29 tahun sebanyak 25 persen, dan berusia 30-35 tahun sebanyak 28 persen berusia 30-35 tahun. Responden tersebut berasal dari perkotaan sebanyan 58 persen dan 42 persen dari pedesaan dan daerah terpencil. Sementara itu, 55 persen responden tinggal di pulau Jawa.(Gilang Nawawi)

Share and Enjoy !

Shares

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *